Jelantah mirip dengan Jelata?


Apa kabar tahun baru 2015? Lama tak berujar di Blog ini. Tak apalah sembari ditemani segelas air bening dalam teduhnya lagu kesukaanku, begini penggalannya "Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak pernah diikhlaskan".

Yap beranjak dari curhat pagi menjadi sebuah cerita yang binal. Konstruksi segala kekacauan dalam tingkat yang paling memiliki kekuasaan dalam negara ini, yah sebut saja mereka yang hanya berada dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak pernah "bijak".
Ketika negara berbicara keadilan, tak ada rasionalnya ketika masih banyak jelantah di mana-mana. Oh iya, siapa tau kamu tidak tau jelantah itu apa, biar ku berikan gambaran soal barang ini. Jelantah adalah minyak, namun kondisinya yang membuatnya semakin jelantah, lebih cenderung dipakai berulang-ulang, tidak sehat dan warnanya hitam kelam, mirip oli. Lebih sering kita lihat di penjual gorengan atau di tempat jualan makanan lainnya yang menggunakan minyak goreng. Yah namanya juga demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, maka minyaknya dipakai berulang-ulang.
Masyarakat juga sering memakai minyak dengan berulang-ulang hingga warnanya hitam, padahal untuk kesehatan jelas-jelas itu tidak baik.Bahkan jelantah dipakai untuk melumaskan onderdil kendaraan atau mesin.
Ah sudahlah, tak ada juga yang terlalu perduli dengan jelantah itu, bahkan bagian kesehatan pun tak semangat menyuarakan penggunaannya. Semua ada dalam zona nyaman. Sama seperti jelantah, masih banyak masyarakat Indonesia yang kondisinya mirip.
Masyarakat jelata tentunya bukan untuk dibuang,  namun untuk di masyarakat sebagai pelaku (subjek) yang setara dalam akses, partisipasi dan kontrol atas pembangunan, serta pemanfaatan hasil pembangunan.

Kopi mana kopi???!!

Comments

Popular Posts