Aku ingin seperti Ibuku. Aku merindukannya..

Beberapa hari ini aku benar-benar merindukan Ibuku dan momen ada di rumah. Isak tangis tak cukup meredam kerinduanku. Sebuah momen yang aku rindukan bisa aku lakukan, ketika nantinya aku bisa seperti Ibuku. Sifatnya banyak juga yang turun ke aku, seperti cengeng ini dan suka tidur. Aku ingin sekali menjadi seperti dia akhir-akhir ini, seperti bangun pagi jam 5 pagi kemudian berberes buat keperluan anak-anaknya dan membangunkan kami berkali-kali untuk bergegas mengerjakan pekerjaan rumah juga sarapan, walau aku selalu suka minum kopi Ayahku dari gelasny, entah apa juga bedanya dari kopi lain.

Kalau sudah malam, Ibuku suka memeriksa kami di setiap kamar apa sudah terlelap atau masih mengerjakan hal tertentu. Kalau malam tiba dan Ibuku masih melihatku bersembunyi membaca buku pada jam larut, dia suka marah tak jelas. Sepertinya sifat insomnia Ibuku turun ke aku dari dulu karena suka tidur terlalu larut. Kadang Ibuku atau Ayahku harus memadamkan lampu kamarku agar aku bisa tidur, tapi aku suka bawa senter ke kamar biar bisa membaca walau lampu padam. Dan sering ketahuan bahwa aku belum tidur, kemudian suara batuk bass Ayahku menghentakku untuk pura-pura tertidur. Bahkan cara Ibuku yang paling lucu adalah pindah ke kamarku untuk tidur agar ada alasan menjaga kami hingga tertidur, tapi aku suka menunggui Ibuku tertidur dengan pura-pura tidur.

Bahkan kalau di ruang makan, kita enam bersaudara suka menyusun strategi tempat duduk agar tidak mengerjakan hal tertentu seperti menyajikan makanan ke meja makan, atau kasi makan si Jimbo, anjing kesayangan kami atau kalau dekat dengan dapur, harus menyiapkan hal lainnya yang dadakan. Senyumku sumringah lagi kalau lepas dari beban itu.

Terutama di jam 6 pagi kita berenam suka bermalasan menyajikan kopi untuk sekeluarga, hingga kembali suara bass Ayahku membuat kita serasa terpaksa melaksanakannya. Kalau malam sekitar jam 8 siapkan kopi lagi buat kita semua sebelum tidur, karena di rumahku minum kopi bukan untuk menghilangkan rasa ngantuk tapi untuk mempermudah tidur.

Kalau hari minggu, kita suka bangun lebih lama, sekitar jam 7 pagi karena hari itu adalah hari minggu. Semangat bergegas ke gereja, kecuali Ayahku bahkan kadang Ibuku susah diajak ke gereja, serasa memang hari minggu adalah hari yang paling malas. Kalau siang hari di hari minggu kita sekeluarga suka tidur siang, karena memang tidak mungkin ke sawah atau ke ladang hari itu.

Pada desember, kita suka masak rame-rame seperti masak kembang loyang, kacang tojen, rendang hingga kue lainnya. Dari Ayahku hingga si pudan kami ikut mengerjakan semuanya. Bapak biasanya dengan Kakakku suka menghias taman, kemudian ada yang suka nyuci kain dengan Ibu juga ada yang suka beres-beres rumah. Semua kerja gotong-royong. Apalagi kalau mau cat rumah, semua ambil bagian untuk ngecat rumah. Tapi paling ruwet adalah penentuan warna cat rumah, banyak komentator. Sepertinya kesetaraan gender sudah aku kenal dari keluargaku ini dari dulu hingga kebebasan yang diberikan ke kami semua untuk menentukan langkah.

Masakan yang paling ku suka kalau Ayahku yang masak, daging panggang atau ikan panggang. Jadi ingat presto panggang hadiah buat Ayahku dariku biar minyaknya banyak terbuang. Terus masakan Ibuku yang paling ku suka adalah ikan teri sambel, ikan mas arsik, rendang, sayur daun ubi, eh semua deh masakan Ibuku ku suka.

Aku ingin seperti Ibuku. Aku merindukannya... -_-

Comments

Popular Posts