Tulisan dari peserta Beasiswa untuk anggota GMKI Medan 2015

GMKI MASA KINI

Shaloom..
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Yesus Kristus sang kepala gerakan.

Mungkin sapaan awal tadi merupakan kata-kata yang tak  asing lagi bagi kita, berangkat dari salam tersebut saya mau mengatakan betapa hebatnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia yang dimana organisasi ini dikepalai langsung oleh Yesus Kristus. Dan yang lebih membanggakan lagi tepat pada tanggal 9 Februari GMKI berumur 65 tahun. Betapa bangga nya saya bisa bergabung dengan organisasi yang sudah lanjut usia namun masih tetap jaya dan Eksis. Saat ini, nama GMKI tak asing lagi dikalangan masyarakat, gereja dan universitas, namun saat ini saya mendapati banyak orang yang berpandangan negative terhadap GMKI. Sementara kita mengetahui bahwa GMKI merupakan organisasi yang membawa kekristenan namun kebanyakan orang awam selalu beranggapan bahwa GMKI hanyalah organisasi politik yang tujuannya meraup keuntungan individu organisasi, menyesat kan mahasiswa/I dengan berpolitik dan menghilangkan Kasih. Sebenarnya wajar  mereka berasumsi seperti itu, karena apa? 

Karena pemahaman dan pengenalan mereka terhadap GMKI sangatlah minim, bahakan mereka hanya bisa menjudge tanpa ada sedikitpun rasa ingin tahu. Mereka hanya memandang GMKI ketika mengadakan sebuah aksi, yang mungkin dibarengi dengan suara Toa, spanduk dan terkadang menggunakan sebagian fasilitas umum seperti jalan raya dan itu membuat jalanan macet, sehingga banyak dari mereka tanpa tahu apa yang sedang berlangsung, untuk siapa itu diilakukan langsung menggerutu, mengomel banhkan mungkin ada yang mencaci meskipun tidak ditujukan langsung pada mahasiswa/I yang sedang melaksanakan aksi. 

Padahal, tiap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa/I GMKI merupakan aksi untuk membela kesejahteraan masyarakat, gereje dan perguruan tinggi tapi itu kan kita yang mengerti mereka tidak paham tentang itu Belum lagi ketika mahasiswa/I diluar organisasi atau tanpa naungan organisasi manapun melakukan aksi yang bisa dikatakan anarkis, dengan membakar ban, lempar-lemparan batu, membawa senjata dan lain sebagainya yang membuat keadaan menjadi ricuh. Kebanyakan orang awam tidak tahu menahu apakan itu GMKI atau bukan, satu hal yang pasti bagi mereka bahwa itu mahasiswa, jadi ketika GMKI melaksanakan aksi meskipun tidak sekonyol mahasiswa/I lain yang anarkis, mereka tetap memandang buruk aksi tersebut. Karena mereka sudah terdoktrin oleh kejadian-kejadian buruk ulah mahasiswa/I yang tidak bertanggungjawab. Maka ketika mendengar kata Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia mereka banyak yang tidak simpati, bahkan ada beberapa yang mencela. Tidak putus sampai disitu saja, kebanyakan dari masyarakat menganggap bahawa GMKI adalah organisasi politik yang hanya ingin mengambil keuntungan, mengajak mahasiswa/I kejalan yang semakin jauh dari Tuhan karena bagi mereka didalam GMKI yang ada hanyalah ajaran-ajaran Politik untuk kenikmatan duniawi, keuntungan individu organisasi dan persepsi-persepsi lainnya. Selain GMKI dipandangan sebagai organisasi fanatik politik, saat ini banyak isu-isu yang mengatakan bahwa GMKI adalah wadah ajang jodoh. 

Bisa kita bayangkan bagaimana kesalnya kita sebagai kader-kader GMKI yang sangat mencintai GMKI mendengar pernyataan tersebut. Seakan kita tak lagi memandang organisasi yang dikepalai Yesus Kristus sebagai organisasi Kekristenan yang ingin menghadirkan syalom Allah. Dari berbagai masalah yang datang kepada GMKI, sudah saatnya bagi kita masing-masing kader GMKI untuk berfikir bagaimana cara memperbaiki nama GMKI dan mengangkat kembali nama GMKI. Dan cukup mengangumkan, sejauh ini komisariat-komisariat GMKI cabang Medan banyak melakukan program-program yang menjadikan GMKI berguna dan harum. Bahkan komisariat-komisariat berlomba menunjukkan kreativitasnya dalam pelayanan di tiga medan layan kita baik melalui program maupun kegiatan-kegiatan lain yang diadakan cabang. Misalnya, pertandingan saat dies natalis. Harapannya, itu bukan hanya sekedar unjuk diri agar nama komisariat baik. Dan harus kita yakini, kita tidak seperti itu.
    
GMKI tidak lepas dari yang namanya Senior dan Purnabakti. Ya, itu benar

Mengapa? Karena senior dan purnabakti masih berhak memajukan komisariatnya, dengan member pelajaran-pelajaran yang pernah mereka dapat dahulunya kepada adik-adik nya yang kelak akan menjadi penerus. Terlebih purnabakti, bahkan mereka masih memiliki tanggungjawab membimbing pengganti-pengganti mereka, meskipun Pengurus Komisariatlah yang memiliki tanggungjawab penuh. Sebenarnya yang kita harapkan adalah senior mau berbagi ilmu dan pengetahuan pada adik-adiknya, begitu pun purnabakti. Namun, dewasa ini kebanyakan dari senior dan purnabakti lebih asyik untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan yang dilakukan adik-adiknya, khususnya Pengurus Komisariat. Bukan nya mengarahkan, malah mencari-cari kesalahan. Hingga ketika mereka menemukan apa yang mereka cari, dengan segala kepercayaan diri mereka yang merasa mereka sudah lebih dahulu mengerti semuanya mereka marah dan menyurutkan semangat. Betapa sedih bukan, ketika kita berharap step older harusnya membimbing dan menyemangati tapi ternyata sibuk mengintai kesalahan-kesalahan, entah dengan maksud apa mereka melakukannya apa mungkin mereka ingin menunjukkan bahwa mereka itu pintar dibandingkan adik-adiknya atau hanya ingin membanding-bandingkan cara kerja mereka dulu dengan saat ini. Harapannya tetap harus positive, mungkin mereka ingi mendidik keras adik-adiknya dengan melakukan pola-pola seperti itu.

    Tapi, menurut saya pola seperti itu kurang efektif dan tak perlu kita lakukan kedepannya. Yang perlu kita lakukan adalah sama-sama belajar bagaimana menjadi lebih baik. Baiklah, kita kembali ke komisariat-komisariat. Yang saya amati dari komisariat-komisariat di cabang medan ini adalah komisariat-komisariat masih banyak yang berkelompok-kelompok. Mengapa? Ya cukup jelas, contohnya ketika berprogram. Komisariat A mengadakan program dengan mengundang komisariat sejajaran, namun komisariat A tidak mengundang seluruh komisariat, komisariat A hanya mengundang komisariat-komisariat yang akrab dengan mereka. Itu hal yang salah, justru seharusnya melalui program semua menjadi lebuh dekat dan membangun rasa persaudaraan yang lebih tinggi lagi. Tak usah difikirkan jika saru komisariat yang diundang namun tidak hadir, kita tak perlu kecewa, mungkin saja mereka memiliki program juga yang terpenting kita mengundang untuk bergabung. Kemudian yang perlu dikecewakan lagi adalah, minimnya rasa kepedulian komisariat-komisariata untuk melakukan kebersihan PKM. 

Padahal semua telah dijadwalkan, namun entah kenapa komisariat-komisariat enggan untuk melaksanakannya, apa tak ada rasa memiliki? Seharusnya kita sadar, bahwa PKM adalah rumah kita dan milik kita bersama. Berarti itu tanggungjawab kita bersama, termasuk dalam hal kebersihan. Begitu juga efek dari komisariat memiliki rumah pribdi komisariat (Yup, sering kita sebut secret). Ketika suatu komisariat memiliki rumah kesekretariat pribadi, komisariat akan lebih sering melakukan segala kegiatan di secret, sehingga lupa untuk datang ke PKM, dan begitulah jadinya secara tak langsung melupakan kewajiban kita untuk PKM. Dan mengapa kebanyakan komisariat lebih memilih di secret komisariat, salah satu penyebabnya adalah, lebih hemat biaya dan kemudian tidak terlalu repot. Dengan peraturan dari cabang ketika komisariat akan menggunakan ruangan di PKM komisariat harus memberika surat peminjaman tempat kepada BPC itu membuat Komisariat merasa repot. Padahal kalau kita fikir-fikir itu hal yang baik, agar kita disiplin dan lebih cekatan. Banyak hal yang pada dasarnya bisa dijadikan pelajaran namun pada realisasinya dianggap merepotkan. Semoga kedepan nya segala yang buruk dapat diperbaiki dan GMKI semakin meningkat kan pelayanannya



Tuhan Yesus memberkati
Tinggilah Iman
Tinggila Ilmu
Tinggilah Pengabdian

Ut Omnes Unum Sint

Shaloom..

YANTI OCTAVIANI TAMBUNAN

Comments

Popular Posts