Tulisan dari peserta Beasiswa untuk anggota GMKI Medan 2015

KONDISI KEKINIAN:
SEBAB DAN AKIBAT PUDARNYA MAKNA “GERAKAN MAHASISWA” DAN MINAT BERORGANISASI DI KALANGAN MAHASISWA

    Mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control selalu menjadi sebuah kekuatan penting dan sebuah kekuatan besar dalam setiap perjuangan rakyat Indonesia, tetapi pada saat ini saya melihat adanya kemunduran dalam dinamika gerakan mahasiswa dan minat dari mahasiswa itu sendiri untuk berorganisasi, yang mana hal ini tentu dapat mempengaruhi proses pembangunan bangsa kita sendiri. Berdasarkan kondisi yang berkembang saat ini, beberapa problem yang tengah menyelimuti gerakan mahasiswa pada saat ini yaitu:

Pertama, adanya polarisasi gerakan mahasiswa. Terpolarisasinya gerakan mahasiswa disini maksudnya adalah, beberapa dari gerakan mahasiswa yang ada tidak lagi murni menjadi suatu gerakan yang berdasar kepada idealisme dan realisme, tetapi ada kepentingan luar yang bermain dibawa oleh gerakan tersebut kedalam kampus (misalnya kepentingan partai). Sehingga akibatnya sungguh sangat menyedihkan karena saat gerakan mahasiswa telah terpolarisasi, maka secara otamatis hal tersebut akan membunuh daya kritis mahasiwa itu sendiri.

Kedua, yang menjadi problem kedua dari gerakan mahasiswa saat ini adalah hegemoni kelompok interest. Dalam hal ini mahasiswa memandang bahwa bergabung didalam sebuah gerakan mahasiswa semata-mata hanya untuk memenuhi kepentingan lain, seperti misalnya hanya untuk mengisi daftar riwayat pengalaman berorganisasi saja untuk keperluan pemenuhan syarat mendapatkan beasiswa dari instansi-instansi tertentu. Sehingga, gerakan yang muncul dari mahasiswa adalah gerakan “bayaran” dari kelompok-kelompok atau individu yang memiliki kepentingan. Nilai dasar atau platform dari gerakan mahasiswa menjadi kabur dinamikanya, karena gerakan yang ada hanyalah gerakan semu yang hanya berusaha menyetubuhkan kepentingan kelompok atau individu kedalam gerakan mahasiswa. Akibatnya, pergerakan mahasiswa menjadi tidak maksimal bahkan terkesan hanya “numpang nama” yang menyebabkan tidak adanya peran mahasiswa tadi didalam gerakan mahasiswa itu sendiri.

Yang menjadi problem atau permasalahan selanjutnya ialah, adanya pergeseran paradigma pemikiran mahasiswa itu sendiri dari mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control bergeser orientasinya menjadi mahasiswa  yang pemikirannya hanya untuk nilai akademis dan materi. Mahasiswa saat ini kebanyakan berpikir bahwa kehidupan di kampus hanyalah untuk belajar diruang kelas, mengikuti ujian dan menghasilkan IPK yang maksimal.
Mahasiswa saat ini juga kerap memiliki beberapa sifat yang mendorong mundurnya minat mahasiswa untuk berorganisasi, seperti:

Bersifat apatis
Sifat apatis yang dimiliki mahasiswa saat ini menurut saya sudah sangat tidak relevan lagi untuk dipertahankan karena sifat yang masa bodoh dan penuh dengan keragu-raguan ini justru akan mengkerdilkan arti dan fungsi dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang bersifat apatis cenderung acuh tak acuh dan pesimis terhadap suatu hal, yang mana mereka memandang bahwa berorganisasi sama sekali tidak memberikan mereka suatu kebaikan dan memandang bahwa orang-orang yang bergabung didalam suatu gerakan mahasiswa adalah orang-orang yang bodoh serta tidak memikirkan studinya. Padahal sebetulnya, mahasiswa yang terjun kedalam sebuah organisasi, memiliki wawasan dua kali lebih besar dibanding mahasiswa yang hanya “kuliah-pulang”.  Lebih parahnya lagi kecenderungannya sekarang, mahasiswa lebih memilih sepakat dengan image yang telah ditabelkan secara general, tanpa ada itikad baik untuk merubah atau memperjuangkan image tersebut agar menjadi lebih baik sesuai dengan nilai-nilai substantifnya.

Bersifat opurtunis
Paradigma gerakan mahasiswa yang juga mesti direvoltare pada saat ini adalah sifat-sifat opurtunis, yaitu suka mengambil keuntungan sendiri. Sikap opurtunis ini menjadikan pergerakan mahasiswa terpecah-pecah sehingga setiap individu atau elemen saling mencurigai. Akibatnya, esensi dan nilai dasar perjuangan terlupakan, karena setiap elemen atau individu yang ada terjebak dalam ego sentrismenya masing-masing demi keuntungan mereka sendiri.

Bersifat hedonisme
Mahasiswa pada jaman sekarang cenderung bersifat hedonisme. Yang man, mahasiswa lebih memilih memamerkan kekayaannya didepan umum, bermewah-mewahan dengan segala sesuatu yang dimilikinya tanpa mau lagi memandang kepada nilai-nilai pancasila, makna perjuangan pemuda serta hal-hal mulia lainnya yang diwariskan kepada pemuda yang semestinya harus dijalankan dengan baik melalui gerakan mahasiswa dan membawa mahasiswa kembali kepada fungsi awalnya yaitu sebagi agent of change dan agent of control. Bukan malah sebaliknya menjadikan semua nilai-nilai perjuangan itu hilang karena kesombongan dan sifat hedonisme yang dimiliki oleh mahasiswa kebanyakan pada saat ini.

Semakin kita melihat kedalam suatu masalah, kita akan semakin tau langkah atau cara apa yang dapat kita ambil untuk mengatasi masalah tersebut. Melihat kepada sebab dan akibat pudarnya makna “gerakan mahasiswa” dan minat mahasiswa untuk berorganisasi pada saat ini, mengajarkan kita untuk kembali memahami dan menyadari bersama pentingnya makna sebuah “gerakan mahasiswa” dan nilai-nilai positif dari berorganisasi. Oleh sebab itu, sebagai pemuda-pemudi penerus bangsa, sudah selayaknya lah kita untuk mau kembali meneruskan, memperjuangkan serta mempertahan pergerakan mahasiswa di negeri kita Indonesia yang tercinta ini.
Hidup Mahasiswa!!!
 Meilinda Nainggolan
MAPER bulan November 2012
Peserta Latihan Dasar Kepemimpinan GMKI FH USU kerjasama dengan Yayasan Padimun Kasih tahun 2013
Panitia Malam GMKI FH USU tahun 2013
Wakil Bendahara PK GMKI FH USU 2013-2014
Koordinator Tim Penggalangan Dana GMKI FH USU 2013-2014
Panitia Maper GMKI Medan tahun 2013
Wakil sekretaris bidang Kerohanian PK GMKI FH USU 2014- sekarang

Comments

Popular Posts